Yogyakarta, Solo dan sekitarnya

Pasar Klewer, Solo

Print PDF
Pasar Klewer merupakan salah satu pusat perbelanjaan yang cukup terkenal di Solo, Kota Surakarta, Jawa Tengah. Pasar yang letaknya bersebelahan dengan Keraton Surakarta ini merupakan pusat perbelanjaan kain batik terlengkap, sehingga menjadi tempat rujukan kulakan para pedagang, baik dari Yogyakarta, Surabaya, Semarang, dan kota-kota lain di pulau Jawa. Selain itu, kain batik di pasar ini juga terkenal dengan harganya yang murah jika dibandingkan dengan pusat perbelanjaan di kota-kota lain di Indonesia. Pasar yang dibangun pada tahun 1970 ini, terdiri dari dua lantai yang cukup luas. Pasar ini menampung sejumlah 1.467 pedagang dengan jumlah kios sekitar 2.064 unit.

Menurut cerita masyarakat setempat, pada zaman pendudukan Jepang di Indonesia, kawasan ini merupakan tempat pemberhentian kereta api, yang juga digunakan sebagai  tempat jualan para pedagang pribumi. Karena dijadikan sebagai tempat jualan itulah kemudian terkenal dengan sebutan Pasar Slompretan. Kata slompretan diambil dari suara kereta api ketika akan berangkat yang mirip dengan tiupan terompet (slompret). Pasar Slompretan ini merupakan tempat para pedagang kecil yang menawarkan barang dagangan berupa kain batik yang ditaruh pada pundaknya sehingga tampak berkeleweran jika dilihat dari kejauhan. Dari barang dagangan (kain batik) yang berkeleweran inilah kemudian pasar ini terkenal dengan nama Pasar Klewer hingga sekarang.

Sentra grosir kain batik ini menyediakan berbagai macam motif dan jenis batik, di antaranya batik tulis motif Solo, batik cap (print), dan motif-motif batik lainnya. Ada juga berbagai jenis batik Surakarta, seperti batik asli Surakarta, batik antik kraton Surakarta, batik pantai kraton Surakarta, daster batik Surakarta, batik saerah Surakarta, batik putri Solo, batik "kelelawar" Surakarta, dan lain-lain. Selain itu, terdapat juga berbagai macam jenis batik Yogyakarta, Pekalongan, Banyumas, Madura, Betawi, dan berbagai jenis batik dari kota-kota lainnya. Di pasar ini juga menyediakan kain batik untuk baju, sprei, sarung bantal, dan segala aksesoris-aksesoris lain yang berbau batik.

Selain terkenal dengan pusatnya batik, pasar yang di dalamnya terdapat 2.064 unit kios ini juga menyediakan aneka macam barang-barang kebutuhan lainnya, di antaranya pakaian non batik, makanan, kerajinan, pernak-pernik, barang-barang elektronik, emas, peralatan dapur, dan masih banyak lagi. Selain itu, terdapat juga kerajinan-kerajinan khas masyarakat Solo yang berkualitas ekspor, di antaranya cermin kayu ukir, kaca ukir, dan berbagai macam suvenir yang berbahan dasar kaca.
 

Pura Mangkunegaran

Print PDF

Selain Keraton Kasunanan Surakarta yang merupakan kelanjutan dari dinasti Kerajaan Mataram Islam, terdapat juga sebuah bangunan keraton lain yang bernama Pura Mangkunegaran (pura = istana). Pura (Puro) Mangkunegaran adalah istana tempat kediaman Sri Paduka Mangkunagara di Surakarta dan dibangun setelah tahun 1757 dengan mengikuti model keraton yang lebih kecil. Pura Mangkunegaran dibangun oleh Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Aryo (KGPAA) Mangkunegara I, pendiri dinasti Praja Mangkunegaran (praja = negeri).

Secara arsitektur bangunan ini memiliki ciri yang sama dengan keraton, yaitu pada pamedan, pendopo, pringgitan, dalem, dan kaputran, yang seluruhnya dikelilingi oleh tembok yang kokoh.

Sejarah berdirinya istana ini tidak bisa dipisahkan dari perjuangan Raden Mas (RM) Said yang juga dikenal dengan sebutan Pangeran Sambernyawa. RM Said adalah putera Kanjeng Pangeran Aryo (KPA) Mangkunegara yang lahir tahun 1725. KPA Mangkunegara merupakan kakak Paku Buwana II yang sekaligus berkedudukan sebagai penasehat susuhunan (sebutan untuk raja, dalam hal ini Paku Buwana II) di Keraton Kartasura.

Pada 1742 meletus pemberontakan Cina (Geger Pecinan), dimana Susuhunan Paku Buwana II beserta para pengikutnya melarikan diri ke Ponorogo, Jawa Timur. Para pemberontak yang juga didukung oleh sebagian bangsawan istana ini mengangkat Mas Garendi (Sunan Kuning) sebagai susuhunan atau raja baru di Keraton Kartasura, dan RM Said yang ketika itu berusia sekitar 17 tahun, juga turut ambil bagian dalam pemberontakan bersama Mas Garendi melawan susuhunan yang didukung oleh Belanda.

Ketika pemberontakan Mas Garendi berhasil dipadamkan, dan Keraton Kartasura berpindah ke Surakarta, RM Said tetap gigih melakukan perlawanan terhadap Belanda maupun susuhunan. Bahkan perjuangan RM Said kemudian memperoleh dukungan dari Pangeran Mangkubumi (kelak Hamengku Buwana I, pendiri dinasti Kesultanan Yogyakarta). Pangeran Mangkubumi turut memberontak karena susuhunan dianggap tidak menepati janji memberikan hadiah atas jasanya membebaskan tanah Sukowati yang pernah dikuasai oleh RM Said dalam pemberontakannya.

Namun, perjuangan Pangeran Mangkubumi dan RM Said harus berpisah jalan setelah Pangeran Mangkubumi menyetujui adanya Perjanjian Giyanti 1755, yang membagi kerajaan mataram menjadi dua: Kasunanan Surakarta dan Kesultanan Yogyakarta. Dalam perjanjian Giyanti disebutkan, Paku Buwana III berdaulat atas wilayah Kasunanan Surakarta, sementara Hamengku Buwana I berdaulat atas kerajaan baru bernama Kesultanan Ngayogyakarta Hadiningrat.

RM Said baru menghentikan perlawanannya setelah Pakubuwana III membujuknya untuk kembali ke Keraton Surakarta, hidup berdampingan sebagai saudara sesama keturunan trah Mataram. Tawaran ini diterima oleh RM Said, asalkan status kebangsawanannya dikembalikan, serta kediaman dan wilayah-wilayah yang pernah ia kuasai selama memberontak diberikan kepadanya. Dan kesepakatan ini dituangkan dalam Perjanjian Salatiga 1757, yang salah satu isinya menyatakan bahwa Penguasa Mangkunegaran berhak menyandang gelar pangeran (yaitu Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Aryo), namun tidak berhak menyandang gelar sunan atau sultan. Selain itu, ditegaskan pula bahwa Mangkunegaran menguasai wilayah bagian utara Surakarta (sekarang Kecamatan Banjarsari), seluruh wilayah Karanganyar, Wonogiri, serta sebagian daerah di Gunung Kidul.

Meskipun diakui sebagai penguasa yang sah, namun terdapat beberapa perbedaan mendasar antara Mangkunegaran dan Kasunanan. Untuk menyebut bangunan istana, misalnya, istilah pura lebih merujuk kepada tempat tinggal seorang pangeran, sementara keraton merupakan tempat tinggal raja. Meskipun berkuasa penuh atas wilayahnya, KGPAA Mangkunegara I dilarang duduk di atas singgasana, mendirikan Balai Winata, memiliki alun-alun beserta sepasang pohon beringin, serta menjatuhkan hukuman mati (Hartono, 2007:37). Batasan-batasan ini rupanya menjadi ciri pembeda antara “kekuasaan” yang dimiliki oleh Kasunanan Surakarta dan Pura Mangkunegaran berdasarkan Perjanjian Salatiga.

Selain itu, berbeda dengan raja-raja Kasunanan Surakarta dan Kesultanan Yogyakarta yang umumnya dimakamkan di Makam Raja-raja Mataram di Imogiri, para penguasa Praja Mangkunegaran dimakamkan di Astana Mangadeg dan Astana Girilayu, di lereng Gunung Lawu. Makam Imogiri dibangun oleh Sultan Agung, Raja terbesar Mataram Islam. Makam Imogiri diperuntukkan bagi anak keturunan Sultan Agung, baik dari Keraton Kasunanan Surakarta maupun Kesultanan Surakarta.

Atas jasanya mengobarkan perlawanan terhadap Belanda, melalui Keppres RI No.048/TK/tahun 1988, RM Said atau KGPAA Mangkunegara I dianugerahi Bintang Mahaputra Adipurna (Kelas I) dan ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional. Saat ini, Pura Mangkunegaran telah berusia lebih dari 250 tahun. Kemegahan bangunannya tetap bisa disaksikan hingga kini. Meskipun tidak lagi berfungsi sebagai pusat pemerintahan, namun Pura Mangkunegaran tetap memainkan fungsinya sebagai pusat kebudayaan Jawa.

Pura Mangkunegaran memiliki luas sekitar 10.000 meter persegi. Bangunan istana yang ada sekarang diperkirakan dibangun pada masa KGPAA Mangkunegara II yang memerintah antara 1804—1866. Bangunan istana ini terdiri dari dua bangunan utama khas Jawa, yaitu Pendapa dengan bentuk joglo dan Dalem Agung dengan bentuk limasan. Istana ini mulai dibuka untuk kunjungan wisatawan sejak tahun 1968 (www.solo-kedu.com). Warna resmi Pura Mangkunegaran adalah hijau dan kuning emas yang disebut pareanom (padi muda). Warna resmi ini dapat dilihat pada bendera, pataka (lambang-lambang pasukan), serta sindur (selendang) yang digunakan oleh abdi dalem maupun kerabat istana.

Memasuki halaman Pura Mangkunegaran, wisatawan akan disambut oleh lapangan rumput dengan kolam berbentuk bulat di tengahnya. Halaman rumput ini merupakan bagian depan dari bangunan Pendapa. Pendapa Mangkunegaran berbentuk joglo dan ditopang oleh empat saka guru (tiang utama). Dahulu, tempat ini berfungsi sebagai lokasi untuk menerima tamu-tamu kerajaan. Namun, karena Pura Mangkunegaran tidak lagi berfungsi sebagai penguasa politik, maka pendapa ini sekarang lebih sering digunakan sebagai lokasi pementasan berbagai tarian khas Jawa.

Di sisi Barat Pendapa terdapat seperangkat gamelan yang diselubungi kain hijau. Perangkat gamelan pusaka bernama Kyai Kanyut Mesem tersebut berusia sekitar 200 tahun. Selain Kyai Kanyut Mesem, terdapat gamelan-gamelan lain yang juga dikeramatkan dan hanya ditabuh pada saat dilaksanakan upacara-upacara tertentu, seperti penobatan penguasa Praja Mangkunegaran yang baru, upacara perkawinan dan khitanan keluarga Mangkunegaran, serta upacara penyambutan tamu-tamu penting.

Bangunan utama lainnya adalah Dalem Agung yang biasa digunakan untuk melaksanakan upacara-upacara tradisional keluarga Mangkunegaran. Dalem Agung merupakan bangunan berbentuk limas dengan luas sekitar 838,75 meter persegi. Bangunan ini ditopang oleh delapan saka guru, masing-masing setinggi sekitar 8,50 meter. Uniknya, bagian langit-langit Dalem Agung tidak ditutupi plafon, sehingga usuk-usuk kayu yang menjulur dari bubungan ke bagian tepi nampak seperti bulatan matahari dengan julur-julur sinarnya. Di dalam Dalem Agung terdapat barang-barang ampilan (barang khusus untuk digunakan) untuk berbagai pementasan tari, seperti Tari Bedaya, Srimpi, dan Langendriyan.

Tempat tinggal keluarga Mangkunegaran (Pracimoyoso) berada di belakang Dalem Agung. Dahulu, antara pangeran dan putri Mangkunegaran tinggal di bangunan yang terpisah. Pada bagian Timur disebut Bale Peni yang digunakan sebagai tempat tinggal para pangeran, sedangkan pada bagian Barat disebut Bale Warni yang merupakan tempat tinggal putri-putri Mangkunegaran. Tempat tinggal keluarga Mangkunegaran ini nampak asri, dihiasi dengan halaman berumput dan patung-patung bergaya Eropa klasik.

Selain menelusuri keunikan arsitektur dan berbagai peninggalan bersejarah tersebut, pengunjung sebaiknya meluangkan waktu untuk melihat-lihat koleksi perpustakaan Mangkunegaran, yaitu Rekso Pustoko yang didirikan pada 1867 oleh KGPAA Mangkunegara IV. Rekso Pustoko sendiri bermakna merawat buku (rekso = merawat, pustoko = buku), sehingga pendirian perpustakaan ini dimaksudkan sebagai upaya istana untuk menjaga khazanah keilmuan yang berkembang di Pura Mangkunegaran.

Perpustakaan Rekso Pustoko menyimpan koleksi sekitar 20 ribu buku sejak masa Mangkunegara I hingga Mangkunegara IX. Perkembangan pesat koleksi perpustakaan pernah terjadi pada masa KGPAA Mangkunegara VII, di mana tambahan koleksi tidak hanya berasal dari buku-buku beraksara Jawa, melainkan pula buku-buku latin berbahasa Asing, seperti berbahasa Perancis, Inggris, Jerman, dan Belanda. Perpustakaan Rekso Pustoko dibuka untuk umum dari pukul 09.00 – 12.30 WIB.

Wisatawan yang berkunjung ke Pura Mangkunegaran dikenakan biaya tiket seharga Rp2.500,00 per orang. Bagi wisatawan yang ingin menginap di lingkungan Pura Mangkunegaran, terdapat sebuah hotel persis di bagian Barat Daya istana, yaitu Mangkunegaran Palace Hotel. Dengan menginap di tempat ini, wisatawan dapat lebih leluasa menikmati nilai historis dan budaya yang dimiliki oleh Pura Mangkunegaran, misalnya dengan menyaksikan berbagai pentas kesenian khas Jawa di Pendapa yang digelar pada malam-malam tertentu.

 

Dataran Tinggi Dieng

Print PDF

Dieng adalah dataran tinggi yang luas dan dikelilingi oleh pegunungan. Terletak di wilayah Kabupaten Banjarnegara dan Kabupaten Wonosobo, dan berada di sebelah barat kompleks Gunung Sindoro dan Gunung Sumbing.

Dieng adalah wilayah vulkanik aktif dan dapat dikatakan merupakan gunung api raksasa. Kawah-kawah kepundan banyak dijumpai di sana. Ketinggian rata-rata adalah sekitar 2.000m di atas permukaan laut. Suhu di Dieng sejuk mendekati dingin, berkisar 15—20°C di siang hari dan 10°C di malam hari. Pada musim kemarau (Juli dan Agustus), suhu udara terkadang dapat mencapai 0°C di pagi hari dan memunculkan embun beku yang oleh penduduk setempat disebut bun upas ("embun racun") karena menyebabkan kerusakan pada tanaman pertanian.

Secara administrasi, Dieng mencakup Desa Dieng Kulon, Kecamatan Batur, Kabupaten Banjarnegara dan Dieng Wetan, Kecamatan Kejajar, Kabupaten Wonosobo. Hingga tahun 1990-an wilayah ini tidak terjangkau listrik dan merupakan salah satu wilayah paling terpencil di Jawa Tengah.

Nama Dieng merupakan gabungan dua kata dalam bahasa sansekerta, yaitu "Di" yang berarti gunung dan "hyang" dari kata khayangan, yang berarti tempat tinggal pada dewa dan dewi. Jadi Dieng berarti gunung tempat bersemayamnya pada dewa dan dewi.

Tetapi ada juga yang mengatakan bahwa "Dieng" berasal dalam bahas Jawa, yaitu "edi" yang berarti indah/cantik dan "aeng" yang berarti aneh. Jadi Dieng berarti tempat yang indah dan mempunyai kelebihan.

Kawasan Dieng mempunyai beberapa objek wisata yang dapat dikunjungi, diantaranya:
1) Kompleks Candi Pandawa
Kompleks ini terdiri dari 5 candi: Candi Semar, Candi Arjuna, Candi Srikandi, Candi Sembadra, dan Candi Puntadewa. Candi-candi ini merupakan candi Hindu. Diceritakan bahwa pada masa itu berdiri Kerajaan Hindu yang bernama Kalingga dibawah pemerintahan Ratu Sima. Ratu Sima inilah yang memerintahkan untuk mendirikan candi-candi di kompleks Dataran Tinggi Dieng sebagai bentuk pemujaan.
Ratu Sima tidak hanya mendirikan satu kompleks candi, tetapi ia juga mendirikan beberapa candi lain, diantaranya Candi Gatotkaca yang terletak di bukit Pangonan, Candi Dwarawati di kaki Gunung Prahu, dan Candi Bima yang merupakan candi terbesar di kawasan tersebut.

2) Telaga Warna dan Telaga Pengilon
Kedua telaga ini letaknya berdekatan. Dinamakan Telaga Warna karena telaga ini memantulkan berbagai warna. Kandungan belerang yang ada di dalamnya memantulkan warna kehijauan, sedangkan ganggang merah yang ada di dasar memantulkan cahaya kemerahan, dan jernihnya air telaga yang berwarna biru muncul dari pantulan gradasi sinar matahari.
Nama Telaga Pengilon sendiri berarti telaga cermin. Air di telaga ini sangat jernih dan bisa memantulkan bayangan benda yang ada di sekitarnya.

3) Gua dan Kawah
Di kawasan objek wisata Telaga Warna dan Telaga Pengilon juga terdapat beberapa gua. Salah satu di antaranya adalah Gua Semar, panjangnya kira-kira 4m dengan dinding batu dan digunakan untuk bermeditasi. Selain Gua Semar terdapat beberapa gua lain, Gua Sumur dan Gua Jaran. Didalam Gua Sumur terdapat satu mata air yang disebut "Tirta Prawitasari".

Selain telaga dan gua, di kawasan Dieng juga terdapat beberapa kawah. Kawah-kawah tersebut terbentuk dari letusan gunung-gunung yang mengelilingi tempat ini. Salah satunya adalah Kawah Sikidang. Kawah ini menyemburkan air dan lumpur panas serta mengeluarkan aroma busuk yang berasal dari kandungan belerang yang ada di dalamnya (kandungan belerang di kawah ini masih dalam taraf aman bagi para pengunjung). Di sekitar tempat ini terdapat banyak lubang yang mengeluarkan air panas bercampur belerang, sehingga Anda harus berhati-hati saat berjalan. Selain Kawah Sikidang, ada juga Kawah Candradimuka dan Kawah Sileri, yang letaknya tidak jauh dari Kawah Sikidang.

4) Tuk Bimakular
Di kawasan wisata Dieng Plateu terdapat sebuah mata air yang terkenal sebagai sumber mata air sungai Serayu, dengan nama Tuk Bimalukar. “Tuk” berasal dari kata dalam bahasa Jawa yang artinya mata air, sedangkan “bimalukar” diambil dari mitos yang beredar di daerah ini. Para penduduk yakin bahwa mata air ini berasal dari air kencing Bhima Sena (tokoh pandawa dalam pewayangan) yang sedang berlomba dengan para Kurawa untuk membuat sungai. Pada saat ia membuka pakaiannya, Bhima Sena melihat perempuan cantik yang mengganggunya dan ia berkata “sira ayu” (dalam bahasa indonesia mempunyai arti “kamu cantik”). Setelah itu, air kencing Bhima Sena menjadi sebuah mata air dan menjadi sumber dari Sungai Serayu (nama Serayu berasal dari kata “sira ayu” yang diucapkannya). Menurut kepercayaan penduduk, air yang berasal dari Tuk Bimalukar bisa membuat orang menjadi awet muda.

5) Teater Dieng
Di kawasan ini juga bisa menonton film berdurasi sekitar 20 menit di Dieng Plateu Theater. Letak teater ini di lereng bukit Sikendil, kira-kira 300 m dari Telaga Warna. Di sini Anda akan menyaksikan beberapa peristiwa yang pernah terjadi di kawasan Dataran Tinggi Dieng, salah satunya adalah peristiwa tragedi Kawah Sinila pada tahun 1979 yang menewaskan ratusan penduduk Dieng.

6) Perkebunan Teh Tambi
Perkebunan Teh Tambi ini letaknya tidak jauh dari kawasan wisata Dieng. Di tempat ini, tidak hanya bisa memandang hijaunya hamparan pohon teh, tetapi bisa juga menikmati sajian teh yang dihasilkan dari perkebunan.

 

Candi Borobudur

Print PDF

Borobudur adalah candi Buddha yang terletak di Borobudur, Magelang, Jawa Tengah, dan merupakan candi Budha terbesar di Indonesia. Lokasi candi adalah kurang lebih 100 km di sebelah barat daya Semarang dan 40 km di sebelah barat laut Yogyakarta. Candi ini didirikan oleh para penganut agama Buddha Mahayana sekitar tahun 800-an Masehi pada masa pemerintahan wangsa Syailendra.

Borobudur dibangun oleh Raja Samaratungga, salah satu raja kerajaan Mataram Kuno, keturunan Wangsa Syailendra. Berdasarkan prasasti Kayumwungan, seorang Indonesia bernama Hudaya Kandahjaya mengungkapkan bahwa Borobudur adalah sebuah tempat ibadah yang selesai dibangun 26 Mei 824, hampir seratus tahun sejak masa awal dibangun. Nama Borobudur sendiri menurut beberapa orang berarti sebuah gunung yang berteras-teras (budhara), sementara beberapa yang lain mengatakan Borobudur berarti biara yang terletak di tempat tinggi.

Candi Borobudur berbentuk punden berundak, yang terdiri dari enam tingkat berbentuk bujur sangkar, tiga tingkat berbentuk bundar melingkar dan sebuah stupa utama sebagai puncaknya. Selain itu tersebar di semua tingkat-tingkatannya beberapa stupa. Borobudur yang bertingkat sepuluh menggambarkan secara jelas filsafat mazhab Mahayana. Bagaikan sebuah kitab, Borobudur menggambarkan sepuluh tingkatan Bodhisattva yang harus dilalui untuk mencapai kesempurnaan menjadi Buddha.

Bagian kaki Borobudur melambangkan Kamadhatu, yaitu dunia yang masih dikuasai oleh kama atau "nafsu rendah". Bagian ini sebagian besar tertutup oleh tumpukan batu yang diduga dibuat untuk memperkuat konstruksi candi. Pada bagian yang tertutup struktur tambahan ini terdapat 120 panel cerita Kammawibhangga. Sebagian kecil struktur tambahan itu disisihkan sehingga orang masih dapat melihat relief pada bagian ini.

Empat lantai dengan dinding berelief di atasnya oleh para ahli dinamakan Rupadhatu. Lantainya berbentuk persegi. Rupadhatu adalah dunia yang sudah dapat membebaskan diri dari nafsu, tetapi masih terikat oleh rupa dan bentuk. Tingkatan ini melambangkan alam antara yakni, antara alam bawah dan alam atas. Pada bagian Rupadhatu ini patung-patung Buddha terdapat pada ceruk-ceruk dinding di atas ballustrade atau selasar.

Mulai lantai kelima hingga ketujuh dindingnya tidak berelief. Tingkatan ini dinamakan Arupadhatu (yang berarti tidak berupa atau tidak berwujud). Denah lantai berbentuk lingkaran. Tingkatan ini melambangkan alam atas, di mana manusia sudah bebas dari segala keinginan dan ikatan bentuk dan rupa, namun belum mencapai nirwana. Patung-patung Buddha ditempatkan di dalam stupa yang ditutup berlubang-lubang seperti dalam kurungan. Dari luar patung-patung itu masih tampak samar-samar.

Tingkatan tertinggi yang menggambarkan ketiadaan wujud dilambangkan berupa stupa yang terbesar dan tertinggi. Stupa digambarkan polos tanpa lubang-lubang.

Borobudur tidak memiliki ruang-ruang pemujaan seperti candi-candi lain. Yang ada ialah lorong-lorong panjang yang merupakan jalan sempit. Lorong-lorong dibatasi dinding mengelilingi candi tingkat demi tingkat. Di lorong-lorong inilah umat Buddha diperkirakan melakukan upacara berjalan kaki mengelilingi candi ke arah kanan. Bentuk bangunan tanpa ruangan dan struktur bertingkat-tingkat ini diduga merupakan perkembangan dari bentuk punden berundak, yang merupakan bentuk arsitektur asli dari masa prasejarah Indonesia.

Struktur Borobudur bila dilihat dari atas membentuk struktur mandala. Dan struktur Borobudur tidak memakai semen sama sekali, melainkan sistem interlock yaitu seperti balok-balok Lego yang bisa menempel tanpa lem.

Di setiap tingkatan dipahat relief-relief pada dinding candi. Relief-relief ini dibaca sesuai arah jarum jam atau disebut mapradaksina dalam bahasa Jawa Kuna yang berasal dari bahasa Sansekerta daksina yang artinya ialah timur. Relief-relief ini bermacam-macam isi ceritanya, antara lain relief-relief cerita jātaka.

Pembacaan cerita-cerita relief ini senantiasa dimulai, dan berakhir pada pintu gerbang sisi timur di setiap tingkatnya, mulainya di sebelah kiri dan berakhir di sebelah kanan pintu gerbang itu. Maka secara nyata bahwa sebelah timur adalah tangga naik yang sesungguhnya (utama) dan menuju puncak candi, artinya bahwa candi menghadap ke timur meskipun sisi-sisi lainnya serupa benar.

Secara runtutan, maka cerita pada relief candi secara singkat bermakna sebagai berikut :

  • Kaki Candi menceritakan Karmawibhangga yang terdiri dari 160 pigura. Sesuai dengan makna simbolis pada kaki candi, relief yang menghiasi dinding batur yang terselubung tersebut menggambarkan hukum karma. Deretan relief tersebut bukan merupakan cerita seri (serial), tetapi pada setiap pigura menggambarkan suatu cerita yang mempunyai korelasi sebab akibat. Relief tersebut tidak saja memberi gambaran terhadap perbuatan tercela manusia disertai dengan hukuman yang akan diperolehnya, tetapi juga perbuatan baik manusia dan pahala. Secara keseluruhan merupakan penggambaran kehidupan manusia dalam lingkaran lahir - hidup - mati (samsara) yang tidak pernah berakhir, dan oleh agama Buddha rantai tersebutlah yang akan diakhiri untuk menuju kesempurnaan.
  • Tingkat I menceritakan Lalitawistara yang terdiri dari 120 pigura yang merupakan penggambaran riwayat Sang Buddha dalam deretan relief-relief (tetapi bukan merupakan riwayat yang lengkap ) yang dimulai dari turunnya Sang Buddha dari sorga Tusita, dan berakhir dengan wejangan pertama di Taman Rusa dekat kota Banaras. Relief ini berderet dari tangga pada sisi sebelah selatan, setelah melampui deretan relief sebanyak 27 pigura yang dimulai dari tangga sisi timur. Ke-27 pigura tersebut menggambarkan kesibukan, baik di sorga maupun di dunia, sebagai persiapan untuk menyambut hadirnya penjelmaan terakhir Sang Bodhisattwa selaku calon Buddha. Relief tersebut menggambarkan lahirnya Sang Buddha di arcapada ini sebagai Pangeran Siddhartha, putra Raja Suddhodana dan Permaisuri Maya dari Negeri Kapilawastu. Relief tersebut berjumlah 120 pigura, yang berakhir dengan wejangan pertama, yang secara simbolis dinyatakan sebagai Pemutaran Roda Dharma, ajaran Sang Buddha di sebut dharma yang juga berarti "hukum", sedangkan dharma dilambangkan sebagai roda.
  • Selain itu di tingkat I juga menceritakan Jataka dan Awadana yang terdiri dari 500 pigura dan di tingkat II cerita Jataka dan Awadana dilanjutkan dimana terdiri dari 100 pigura. Jataka adalah cerita tentang Sang Buddha sebelum dilahirkan sebagai Pangeran Siddharta. Isinya merupakan pokok penonjolan perbuatan baik, yang membedakan Sang Bodhisattwa dari makhluk lain manapun juga. Sesungguhnya, pengumpulan jasa/perbuatan baik merupakan tahapan persiapan dalam usaha menuju ketingkat ke-Buddha-an. Sedangkan Awadana, pada dasarnya hampir sama dengan Jataka akan tetapi pelakunya bukan Sang Bodhisattwa, melainkan orang lain dan ceritanya dihimpun dalam kitab Diwyawadana yang berarti perbuatan mulia kedewaan, dan kitab Awadanasataka atau seratus cerita Awadana. Pada relief candi Borobudur jataka dan awadana, diperlakukan sama, artinya keduanya terdapat dalam deretan yang sama tanpa dibedakan. Himpunan yang paling terkenal dari kehidupan Sang Bodhisattwa adalah Jatakamala atau untaian cerita Jataka, karya penyair Aryasura dan jang hidup dalam abad ke-4 Masehi.
  • Tingkat II, III, dan IV, menceritakan Gandawyuha yang terdiri dari 460 pigura. Gandawyuha merupakan deretan relief menghiasi dinding lorong ke-2,adalah cerita Sudhana yang berkelana tanpa mengenal lelah dalam usahanya mencari Pengetahuan Tertinggi tentang Kebenaran Sejati oleh Sudhana. Penggambarannya dalam 460 pigura didasarkan pada kitab suci Buddha Mahayana yang berjudul Gandawyuha, dan untuk bagian penutupnya berdasarkan cerita kitab lainnya yaitu Bhadracari.

Pada tahun 1991, Candi Borobudur ditetapkan sebagai sebagai Warisan Dunia oleh UNESCO.

 

Malioboro

Print PDF

Jalan Malioboro adalah nama jalan di Kota Yogyakarta yang membentang dari Tugu Yogyakarta hingga ke perempatan Kantor Pos Yogyakarta yang terdiri dari Jalan Pangeran Mangkubumi dan Jalan Jend. A. Yani. Jalan ini merupakan sumbu imajiner yang menghubungkan Kraton Yogyakarta, Tugu dan puncak Gunung Merapi.

Sejarah jalan ini terbentuk menjadi suatu lokalitas perdagangan adalah setelah Sri Sultan Hamengku Buwono I mengembangkan sarana perdagangan melalui sebuah pasar tradisional pada tahun 1758. Setelah berlalu 248 tahun, tempat itu masih bertahan sebagai suatu kawasan perdagangan bahkan menjadi salah satu ikon Yogyakarta yang dikenal dengan Malioboro.

Terletak sekitar 800 meter dari Kraton Yogyakarta, tempat ini dulunya dipenuhi dengan karangan bunga setiap kali Kraton melaksanakan perayaan. Malioboro yang dalam bahasa sansekerta berarti "karangan bunga" menjadi dasar penamaan jalan tersebut.

Menikmati pengalaman berbelanja, berburu cinderamata khas Jogja, wisatawan bisa berjalan kaki sepanjang bahu jalan yang berkoridor (arcade). Di sini akan ditemui banyak pedagang kaki lima yang menggelar dagangannya. Mulai dari produk kerajinan lokal seperti batik, hiasan rotan, wayang kulit, kerajinan bambu (gantungan kunci, lampu hias dan lain sebagainya) juga blangkon (topi khas Jawa/Jogja) serta barang-barang perak, hingga pedagang yang menjual pernak pernik umum yang banyak ditemui di tempat perdagangan lain. Sepanjang arcade, wisatawan selain bisa berbelanja dengan tenang dalam kondisi cerah maupun hujan, juga bisa menikmati pengalaman belanja yang menyenangkan saat menawar harga. Jika beruntung, bisa berkurang sepertiga atau bahkan separohnya.

Lalu, ada pasar tradisional yang harus dikunjungi, yaitu Pasar Beringharjo. Disini selain dapat menjumpai barang-barang sejenis yang dijual di sepanjang arcade, pasar ini menyediakan beraneka produk tradisional yang lebih lengkap. Selain produk lokal Jogja, juga tersedia produk daerah tetangga seperti batik Pekalongan atau batik Solo. Mencari batik tulis atau batik print, atau sekedar mencari tirai penghias jendela dengan motif unik serta sprei indah bermotif batik.

Saat matahari mulai terbenam, satu persatu lapak lesehan mulai digelar. Makanan khas Jogja seperti gudeg atau pecel lele bisa dinikmati disini selain masakan oriental ataupun sea food serta masakan Padang. Serta hiburan lagu-lagu hits atau tembang kenangan oleh para pengamen jalanan ketika bersantap.

Terdapat beberapa obyek bersejarah di jalan ini antara lain Tugu Yogyakarta, Stasiun Tugu, Gedung Agung, Pasar Beringharjo, Benteng Vendeburg dan Monumen Serangan Oemoem 1 Maret.

 


Page 1 of 3

Tour Keluarga

Bandung, Malabar dan Papandayan Tour 3 Hari 2 Malam

Hari-01 : Malabar/Kabupaten Bandung (D)Berangkat dari Jakarta menuju Pangalengan Kabupaten Bandung, yaitu lokasi yang bernuansa Perkebunan Teh Malabar...

more
Medan, Danau Toba dan Brastagi Tour 5 Hari / 4 Malam

Hari 01 : MEDAN – PARAPAT – DANAU TOBA (MS, MM) Anda tiba di bandara Polonia Medan. Dijemput kemudian dilanjutkan menuju Parapat di Danau Toba mel...

more
Jawa Timur Tour ke Surabaya, Malang dan Gunung Bromo 4 Hari 3 Malam

Day 1. Tiba di Surabaya - Transfer ke Desa Cemorolawang, Bromo (D)Setibanya di Surabaya airport, anda akan dijemput oleh guide kami untuk kemudian ber...

more
Medan dan Danau Toba 4 Hari 3 Malam

Hari 1 : MEDAN - BRASTAGI (MS/MM) Tiba di Bandar Udara Polonia Medan, anda akan dijemput oleh pramuwisata kami untuk makan siang dan langsung menuju k...

more

Tour Pasangan

Jakarta, Puncak dan Bandung Tour 5 Hari 4 Malam

Day 1. Tiba di Jakarta - Transfer ke hotelSetibanya di Jakarta, anda akan dijemput dan disambut oleh guide kami untuk kemudian bersama-sama menuju hot...

more
Sulawesi (Toraja) Tour 3 Hari 2 Malam

Day 01. Tiba di Makassar - Tana Toraja (LD)Setibanya di Hasanuddin airport, anda akan disambut oleh guide kami. Selanjutnya kita akan berkendara ku...

more
Lombok 5 Hari 4 Malam

HARI 01 : TIBA DI LOMBOK – MATARAM CITY TOUR (L,D)Tiba di Selaparang Airport Mataram di jemput dan kami ajak City Tour terlebih dahulu mengunjungi:M...

more
Medan, Danau Toba dan Brastagi Tour 5 Hari / 4 Malam

Hari 01 : MEDAN – PARAPAT – DANAU TOBA (MS, MM) Anda tiba di bandara Polonia Medan. Dijemput kemudian dilanjutkan menuju Parapat di Danau Toba mel...

more
Silahkan login di sini



Rekomendasi Hotel

Aryaduta Hotel, Medan

Dengan kamar sejumlah 200 unit, Aryaduta Hotel Medan memiliki semua amenity dan layanan yang Anda ha...

more
JW Marriott Hotel, Surabaya

JW Marriott Surabaya Hotel letaknya mudah dicapai dari apa-apa yang ditawarkan Surabaya, dan berjara...

more
Majapahit Surabaya

Hotel yang dibangun pada tahun 1910 oleh Sarkies bersaudara yang juga merupakan arsitek dari Raffles...

more

Tips berwisata

Sewa Bus Pariwisata

Sewa Mobil