Selain Keraton Kasunanan Surakarta yang merupakan kelanjutan dari dinasti Kerajaan Mataram Islam, terdapat juga sebuah bangunan keraton lain yang bernama Pura Mangkunegaran (pura = istana). Pura (Puro) Mangkunegaran adalah istana tempat kediaman Sri Paduka Mangkunagara di Surakarta dan dibangun setelah tahun 1757 dengan mengikuti model keraton yang lebih kecil. Pura Mangkunegaran dibangun oleh Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Aryo (KGPAA) Mangkunegara I, pendiri dinasti Praja Mangkunegaran (praja = negeri).
Secara arsitektur bangunan ini memiliki ciri yang sama dengan keraton, yaitu pada pamedan, pendopo, pringgitan, dalem, dan kaputran, yang seluruhnya dikelilingi oleh tembok yang kokoh.
Sejarah berdirinya istana ini tidak bisa dipisahkan dari perjuangan Raden Mas (RM) Said yang juga dikenal dengan sebutan Pangeran Sambernyawa. RM Said adalah putera Kanjeng Pangeran Aryo (KPA) Mangkunegara yang lahir tahun 1725. KPA Mangkunegara merupakan kakak Paku Buwana II yang sekaligus berkedudukan sebagai penasehat susuhunan (sebutan untuk raja, dalam hal ini Paku Buwana II) di Keraton Kartasura.
Pada 1742 meletus pemberontakan Cina (Geger Pecinan), dimana Susuhunan Paku Buwana II beserta para pengikutnya melarikan diri ke Ponorogo, Jawa Timur. Para pemberontak yang juga didukung oleh sebagian bangsawan istana ini mengangkat Mas Garendi (Sunan Kuning) sebagai susuhunan atau raja baru di Keraton Kartasura, dan RM Said yang ketika itu berusia sekitar 17 tahun, juga turut ambil bagian dalam pemberontakan bersama Mas Garendi melawan susuhunan yang didukung oleh Belanda.
Ketika pemberontakan Mas Garendi berhasil dipadamkan, dan Keraton Kartasura berpindah ke Surakarta, RM Said tetap gigih melakukan perlawanan terhadap Belanda maupun susuhunan. Bahkan perjuangan RM Said kemudian memperoleh dukungan dari Pangeran Mangkubumi (kelak Hamengku Buwana I, pendiri dinasti Kesultanan Yogyakarta). Pangeran Mangkubumi turut memberontak karena susuhunan dianggap tidak menepati janji memberikan hadiah atas jasanya membebaskan tanah Sukowati yang pernah dikuasai oleh RM Said dalam pemberontakannya.
Namun, perjuangan Pangeran Mangkubumi dan RM Said harus berpisah jalan setelah Pangeran Mangkubumi menyetujui adanya Perjanjian Giyanti 1755, yang membagi kerajaan mataram menjadi dua: Kasunanan Surakarta dan Kesultanan Yogyakarta. Dalam perjanjian Giyanti disebutkan, Paku Buwana III berdaulat atas wilayah Kasunanan Surakarta, sementara Hamengku Buwana I berdaulat atas kerajaan baru bernama Kesultanan Ngayogyakarta Hadiningrat.
RM Said baru menghentikan perlawanannya setelah Pakubuwana III membujuknya untuk kembali ke Keraton Surakarta, hidup berdampingan sebagai saudara sesama keturunan trah Mataram. Tawaran ini diterima oleh RM Said, asalkan status kebangsawanannya dikembalikan, serta kediaman dan wilayah-wilayah yang pernah ia kuasai selama memberontak diberikan kepadanya. Dan kesepakatan ini dituangkan dalam Perjanjian Salatiga 1757, yang salah satu isinya menyatakan bahwa Penguasa Mangkunegaran berhak menyandang gelar pangeran (yaitu Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Aryo), namun tidak berhak menyandang gelar sunan atau sultan. Selain itu, ditegaskan pula bahwa Mangkunegaran menguasai wilayah bagian utara Surakarta (sekarang Kecamatan Banjarsari), seluruh wilayah Karanganyar, Wonogiri, serta sebagian daerah di Gunung Kidul.
Meskipun diakui sebagai penguasa yang sah, namun terdapat beberapa perbedaan mendasar antara Mangkunegaran dan Kasunanan. Untuk menyebut bangunan istana, misalnya, istilah pura lebih merujuk kepada tempat tinggal seorang pangeran, sementara keraton merupakan tempat tinggal raja. Meskipun berkuasa penuh atas wilayahnya, KGPAA Mangkunegara I dilarang duduk di atas singgasana, mendirikan Balai Winata, memiliki alun-alun beserta sepasang pohon beringin, serta menjatuhkan hukuman mati (Hartono, 2007:37). Batasan-batasan ini rupanya menjadi ciri pembeda antara “kekuasaan” yang dimiliki oleh Kasunanan Surakarta dan Pura Mangkunegaran berdasarkan Perjanjian Salatiga.
Selain itu, berbeda dengan raja-raja Kasunanan Surakarta dan Kesultanan Yogyakarta yang umumnya dimakamkan di Makam Raja-raja Mataram di Imogiri, para penguasa Praja Mangkunegaran dimakamkan di Astana Mangadeg dan Astana Girilayu, di lereng Gunung Lawu. Makam Imogiri dibangun oleh Sultan Agung, Raja terbesar Mataram Islam. Makam Imogiri diperuntukkan bagi anak keturunan Sultan Agung, baik dari Keraton Kasunanan Surakarta maupun Kesultanan Surakarta.
Atas jasanya mengobarkan perlawanan terhadap Belanda, melalui Keppres RI No.048/TK/tahun 1988, RM Said atau KGPAA Mangkunegara I dianugerahi Bintang Mahaputra Adipurna (Kelas I) dan ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional. Saat ini, Pura Mangkunegaran telah berusia lebih dari 250 tahun. Kemegahan bangunannya tetap bisa disaksikan hingga kini. Meskipun tidak lagi berfungsi sebagai pusat pemerintahan, namun Pura Mangkunegaran tetap memainkan fungsinya sebagai pusat kebudayaan Jawa.
Pura Mangkunegaran memiliki luas sekitar 10.000 meter persegi. Bangunan istana yang ada sekarang diperkirakan dibangun pada masa KGPAA Mangkunegara II yang memerintah antara 1804—1866. Bangunan istana ini terdiri dari dua bangunan utama khas Jawa, yaitu Pendapa dengan bentuk joglo dan Dalem Agung dengan bentuk limasan. Istana ini mulai dibuka untuk kunjungan wisatawan sejak tahun 1968 (www.solo-kedu.com). Warna resmi Pura Mangkunegaran adalah hijau dan kuning emas yang disebut pareanom (padi muda). Warna resmi ini dapat dilihat pada bendera, pataka (lambang-lambang pasukan), serta sindur (selendang) yang digunakan oleh abdi dalem maupun kerabat istana.
Memasuki halaman Pura Mangkunegaran, wisatawan akan disambut oleh lapangan rumput dengan kolam berbentuk bulat di tengahnya. Halaman rumput ini merupakan bagian depan dari bangunan Pendapa. Pendapa Mangkunegaran berbentuk joglo dan ditopang oleh empat saka guru (tiang utama). Dahulu, tempat ini berfungsi sebagai lokasi untuk menerima tamu-tamu kerajaan. Namun, karena Pura Mangkunegaran tidak lagi berfungsi sebagai penguasa politik, maka pendapa ini sekarang lebih sering digunakan sebagai lokasi pementasan berbagai tarian khas Jawa.
Di sisi Barat Pendapa terdapat seperangkat gamelan yang diselubungi kain hijau. Perangkat gamelan pusaka bernama Kyai Kanyut Mesem tersebut berusia sekitar 200 tahun. Selain Kyai Kanyut Mesem, terdapat gamelan-gamelan lain yang juga dikeramatkan dan hanya ditabuh pada saat dilaksanakan upacara-upacara tertentu, seperti penobatan penguasa Praja Mangkunegaran yang baru, upacara perkawinan dan khitanan keluarga Mangkunegaran, serta upacara penyambutan tamu-tamu penting.
Bangunan utama lainnya adalah Dalem Agung yang biasa digunakan untuk melaksanakan upacara-upacara tradisional keluarga Mangkunegaran. Dalem Agung merupakan bangunan berbentuk limas dengan luas sekitar 838,75 meter persegi. Bangunan ini ditopang oleh delapan saka guru, masing-masing setinggi sekitar 8,50 meter. Uniknya, bagian langit-langit Dalem Agung tidak ditutupi plafon, sehingga usuk-usuk kayu yang menjulur dari bubungan ke bagian tepi nampak seperti bulatan matahari dengan julur-julur sinarnya. Di dalam Dalem Agung terdapat barang-barang ampilan (barang khusus untuk digunakan) untuk berbagai pementasan tari, seperti Tari Bedaya, Srimpi, dan Langendriyan.
Tempat tinggal keluarga Mangkunegaran (Pracimoyoso) berada di belakang Dalem Agung. Dahulu, antara pangeran dan putri Mangkunegaran tinggal di bangunan yang terpisah. Pada bagian Timur disebut Bale Peni yang digunakan sebagai tempat tinggal para pangeran, sedangkan pada bagian Barat disebut Bale Warni yang merupakan tempat tinggal putri-putri Mangkunegaran. Tempat tinggal keluarga Mangkunegaran ini nampak asri, dihiasi dengan halaman berumput dan patung-patung bergaya Eropa klasik.
Selain menelusuri keunikan arsitektur dan berbagai peninggalan bersejarah tersebut, pengunjung sebaiknya meluangkan waktu untuk melihat-lihat koleksi perpustakaan Mangkunegaran, yaitu Rekso Pustoko yang didirikan pada 1867 oleh KGPAA Mangkunegara IV. Rekso Pustoko sendiri bermakna merawat buku (rekso = merawat, pustoko = buku), sehingga pendirian perpustakaan ini dimaksudkan sebagai upaya istana untuk menjaga khazanah keilmuan yang berkembang di Pura Mangkunegaran.
Perpustakaan Rekso Pustoko menyimpan koleksi sekitar 20 ribu buku sejak masa Mangkunegara I hingga Mangkunegara IX. Perkembangan pesat koleksi perpustakaan pernah terjadi pada masa KGPAA Mangkunegara VII, di mana tambahan koleksi tidak hanya berasal dari buku-buku beraksara Jawa, melainkan pula buku-buku latin berbahasa Asing, seperti berbahasa Perancis, Inggris, Jerman, dan Belanda. Perpustakaan Rekso Pustoko dibuka untuk umum dari pukul 09.00 – 12.30 WIB.
Wisatawan yang berkunjung ke Pura Mangkunegaran dikenakan biaya tiket seharga Rp2.500,00 per orang. Bagi wisatawan yang ingin menginap di lingkungan Pura Mangkunegaran, terdapat sebuah hotel persis di bagian Barat Daya istana, yaitu Mangkunegaran Palace Hotel. Dengan menginap di tempat ini, wisatawan dapat lebih leluasa menikmati nilai historis dan budaya yang dimiliki oleh Pura Mangkunegaran, misalnya dengan menyaksikan berbagai pentas kesenian khas Jawa di Pendapa yang digelar pada malam-malam tertentu.